PURWA WACANA

Om Swastiastu,

Desa Pakraman Pedungan memiliki pengurus yang telah di Adiksa Widhi lan Abiseka (dilantik) pada Soma, 19 Desember 2005. Dengan susunan pengurus sebagai berikut: Bendesa : Drs. I Nyoman Sumantra; Penyarikan: Drs. I Gusti Putu Loka; Patengen : Drs. I Wayan Budiasa, M.Si; Patajuh Parhyangan : I Nyoman Jiwa, S.Sos; Patajuh Pawongan : I Ketut Puje Astawa, S.Ag; Patajuh Palemahan : Ir. I Ketut Adhimastra, M.Erg; Kasinoman: I Made Suardana, SE

Om Santhi, santhi, santhi Om

Rabu, 07 April 2010

Menjaga Kelestarian Alam dan Budaya Bali

Santukan ring Desa Pakraman jaga ngawentenang Karya Ngusabha Desa, puniki wenten tulisan saking I Gst. Ngurah Putra, As. Pengurus PHDI Kecamatan Baturiti, Tabanan. Bidang Sastra dan Agama. Manawi tulisan puniki kantun maiketan taler sakadi pakinkin/rencana ngamargiang Ngusabha Desa ring Desa Pakraman Pedungan, ngiring sareng-sareng wacen, lan kayunin, manawi wenten pikenohnyane.
sumber: klik iriki

November 1, 2005

Diakui atau tidak hampir sebagian daerah pertanian di Bali kini tergerus oleh perkembangan pembangunan. Perkembangan pembangunan itu berdampak positif dan negatif terhadap pelestarian alam Pulau Dewata ini. Hilangnya sebagian lahan pertanian juga berpengaruh terhadap hidup dan kehidupan manusia Bali itu sendiri. Dari sisi budaya, tentu dengan hilangnya sebagian lahan pertanian sebagai tempat beraktivitasnya masyarakat Bali akan menghilangkan kegiatan budaya agraris. Persoalan sekarang, apa yang mesti dilakukan manusia Bali dalam melestarikan alam, lingkungan, dan budayanya untuk menjaga ajegnya gumi Bali dari pengaruh globlisasi?
=============================
Berbagai upacara agama digelar untuk membangkitkan kembali rasa kebersamaan dan semangat dalam melestarikan kebudayaan Bali, termasuk mempertahankan budaya agraris. Hampir sebagian besar upacara ritual yang digelar itu berhubungan dengan budaya agraris. Namun, perjuangan umat mengajegkan Bali tidak hanya berhenti pada upacara ritual. Perlu langkah-langkah nyata dalam mempertahankan budaya agraris.


Salah satu upacara yang erat kaitannya dengan pelestarian alam dan budaya Bali adalah ngusaba desa dan ngusaba nini. Belakangan ini, hampir sebagian besar masyarakat di sejumlah desa adat di Bali menggelar upacara jenis itu. Tak ketinggalan Desa Adat Perean, Baturiti, Tabanan akan menggelar upacara serupa yang puncakanya Senin (17/10) mendatang di desa adat setempat.
Namun, kegiatan yang berlangsung di Perean sedikit berbeda bila dibandingkan dengan desa lainnya. Perean penduduknya mayoritas petani, sebagian pedagang, dan selebihnya mengambil pekerjaan serabutan tentu dalam pelaksanaan upacara ngusaba ini cenderung ditekankan kepada ngusaba nini karena wilayah pertanian masih mampu dilestarikan.
Berdasarkan etimologi kata, upacara ngusaba desa terdiri atas tiga suku kata yakni upacara-ngusaba desa, masing-masing berarti upacara adalah gerakan sekeliling kehidupan dan aktivitas-aktivitas manusia dalam upaya menghubungkan diri dengan Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), dengan segenap manifestasi-Nya.
Ngusaba berasal dari akar kata utsawa, dalam bahasa daerah Bali usahabha (ngusabha) atau pangusabhan yang mempunyai arti ganda diambil dari kata sabha berarti pertemuan (rapat), utsawa (usabha) berarti pesta atau perjamuan. Sedangkan kata desa berarti tempat atau wilayah, sehingga dengan demikian kata upacara ngusabha desa berarti, sidang atau pertemuan para Dewata-Dewati berlokasi di Bale Agung bertemakan kesejahteraan wilayah desa pakraman beserta isinya. Arti selanjutnya, pesta, (perjamuan, persembahan), dalam satu wilayah — kehadapan Hyang Widi dengan segenap manifestasi-Nya. Yang dimaksud wilayah adalah daerah teritorial (wewidangan atau palemahan suatu desa pakraman di Bali).
Dalam konteks kekinian pelaksanaan upacara ngusabha desa, merupakan swadharma agama masing-masing desa pakraman di Bali. Sebenarnya upacara ngusabha atau pangusabhan itu banyak sekali jenisnya. Hal itu dapat terjadi karena pleksibelitas dan elastis konsep ajaran agama Hindu di Bali. Di samping adanya pengaruh adagium desa kala patra, desa mawacara, juga negara mawatata.
Walaupun bentuk dan jenis pelaksanaan upacara ngusabha bervariasi, pada hakikatnya pelaksanaannya tetap bersumber kepada konsep ajaran sastra agama Hindu yang tertuang pada kitab suci dan lontar-lontar di Bali. Hanya penekanan hakikat pemujaan manifestasi-Nya yang lebih dikhususkan. Sehingga terjadilah berbagai bentuk dan jenis upacara ngusabha di lingkungan desa pakraman di Bali dengan berbagai aktivitas yang berbeda-beda namun memilik tujuan yang sama.
Pelaksanaan upacara pangusabhan yang paling umum dilakukan oleh umat Hindu di Bali adalah upacara ngusabha desa dan upacara ngusabha shri (nini). Yang pelaksanaannya hampir sama, termasuk upakara, lokasi maupun rangkaian upacaranya. Tetapi penekanan hakikat pemujaannya terhadap manifestasi-Nya berbeda.
Upacara ngusabha desa, hakikat pemujaannya secara fisik adalah untuk air dan bumi, sehingga yang dipuja dalam upacara ngusabha desa adalah Dewa Wisnu atau dewanya air, Pretiwi Dewi adalah bumi yang dimaksud persembahan untuk air dan bumi (tanah). Mengapa demikian? Karena air dan tanah memiliki kekuatan dan kesuburan, sehingga seluruh tumbuhan dapat tumbuh dengan subur dengan daun, bunga, buah, batang, umbinya, untuk dapat dinikmati oleh umat manusia.
Jika semua itu bisa diwujudkan atau dikongkretkan baik dalam bentuk upacara maupun dalam aktivitas masyarakat sehari-hari maka kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan ini akan tercapai. Dalam upacara ngusabha ini yang ditekankan adalah pemujaannya yakni pemujaan sakti (kekuatan). Sehingga dalam pelaksanaan upacara ngusabha desa pemujaannya adalah kepada Ibu Pratiwi. Demikian pula halnya, karena keberhasilan semua bentuk dan jenis tanam tanaman, terutama padi, yang merupakan wujud fisik Dewi Shri atau saktinya Dewa Wisnu, sehingga upacara pangusabhan yang diselenggarakan disebut Ngusabha Shri (Nini).
Pelaksanaan pemujaannya dan persembahan cenderung dilaksanakan oleh krama subak, pemilik areal sawah yang berada di wilayah desa pakraman yang bersangkutan. Padi merupakan perwujudan fisik Dewi Shri salah satu unsur Tri Bhoga (Boga, Upa Boga, Pari Boga) berarti terkait dengan sandang pangan dan papan. Unsur-unsur ini mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh krama desa pakraman, sehingga tercapainya kebahagiaan lahir dan batin dalam kehidupan di bumi ini.
Dalam pemujaan Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini terdapat dua sisi yang berbeda namun tetap menyatu. Pemujaan Ngusabha Desa menekankan permohonan agar bumi dan air memiliki kekuatan dan kesuburan Ngusabha Shri (Nini) menekankan pernyataan angayubagia atas keberhasilan seluruh tanaman terutama padi.
Upacara agama Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini, bila dikaji lebih jauh akan beraplikasi terhadap kehidupan sehari-hari. Upacara ini harus diterjemahkan atau dipersonifikasikan untuk dapat mencapai keseimbangan antara dharma agama dan dharma negara. Mengapa demikian? Karena umat manusia juga dibentuk terdiri atas badan halus dan badan kasar, antara bakti dan kerja agar berjalan selaras.
Bhagawatgita (III.14) menyebutkan: Annad bhavanti bhutani, Parjanyad annasambhavah, Yajnad bhavati parjanyo, Yajnah karma samudbhavah. Artinya: Karena makanan makhluk bisa hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir karena kerja.
Sikap dan perilaku nalar agama dalam usaha dan upaya menunaikan swadharma agama, nampaknya memiliki titik temu dengan konsep Karma Yoga. Dalam blantika kehidupan ini, harus selalu didasari oleh tindakan atau kerja yang merupakan hukum alam. Bekerja seperti telah diwajibkan dengan kebaktian dan pengabdian kehadapan Hyang Widi, tanpa mengharapkan keuntungan pribadi, demi kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manusia.
Demikian pula dengan upacara Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini dalam pemujaan pada hakikatnya permohonan kehadapannya dalam manifestasi Dewa Wisnu dan Dewi Pratiwi, untuk kesejaheraan dan kebahagiaan umat manusia agar bumi menjadi subur, karena adanya hujan dan air, sehingga tanaman seluruhnya berhasil. Dan, akibatnya umat manusia pun menjadi sejahtera dan bahagia, karena dapat menikmati tri bhoga atau sandang, pangan, dan papan.
Upacara agama akan mubazir bila tidak ditindaklanjuti dengan kerja. Demikian pula sebaliknya upacara agama itu akan berhasil bila ditindaklanjuti dengan kerja ‘’berbakti sambil bekerja'’.
Di sini tersirat konsep ajaran Tri Hita Karana — hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia antarmanusia, hubungan manusia dengan wilayah atau palemahan — dengan demikian terciptalah suatu kelestarian untuk menuju ajegnya Bali.
================================
* I Gst. Ngurah Putra, As.
Pengurus PHDI Kecamatan Baturiti, Tabanan
Bidang Sastra dan Agama

Pah-pahan Nunas Tirta lan Gambelan ring Karya Wrespati Kalpa

Manut paruman desa pah 1 (kaping siki) sane kamargiang rahina Saniscara 3 April 2010 ring Gedung LPD Lantai 2 Jalan Pulau Belitung. Wenten putusan saking Panitia Karya Padudusan Wrespati Kalpa Alit Pura Dalem Pakerisan, inggih ipun:

NUNAS TIRTA KE PURA:

NO

PURA

MAGENAH RING

SANE NYANGGRA

1

Sakenan

Pulau Serangan

Br. Kaja

2

Uluwatu

Bukit Pecatu

Br. Pande

3

Batu Pageh/Batu Rejeng

Bukit Ungasan

Br. Karangsuwung

4

Karangboma

Sawangan-Nusa Dua

Br. Kepisah

5

Andakasa

Klungkung

Br. Manesa

6

Watukaru

Tabanan

Br. Begawan

7

Besakih

Karangasem

Br. Dukuh

8

Batur

Bangli

Br. Ambengan

9

Lempuyang

Karangasem

Bapak Mangku Langgeng

10

Tirta Empul

Tampaksiring-Gianyar

Widyasabha

11

Sidakarya

Desa Sidakarya

Br. Puseh

PENUGASAN GAMBELAN:

  1. Nuasen Karya, Nanceb tetaring, sanggar agung, ngeruak dan Nyapuh, ring rahina Soma Umanis sungsang 3 Mei 2010, sekeha gambelan Banjar Sawah
  2. Negtegang beras, Sanggar Pengalangalang, Sanggar Pakideh, ring rahina Wrespati Umanis Dungulan 13 Mei 2010, Beleganjur Br. Karangsuwung
  3. Mecaru, Melaspas, mewinten, mupuk pedagingan, rahinan Wrespati Kliwon langkir 27 Mei jam 10.00 wita, Baleganjur Br. Kaja ring Wantilan Pura Dalem Pakerisan , Gambelan lengkap Br. Menesa/Puseh ring Madia Mandala
  4. Melasti, Mendak Siwi, rahina Redite Pon Medangsia 30 Mei 2010 dauh 14.00. Ring Segara Baleganjur Br. Sanggaran/Ambengan. Baleganjur Br. Begawan ngiring Ida Betara ke segara (naik truk), saking pura Desa nganggen Baleganjur Br. Dukuh
  5. Puncak karya Padudusan, Ngenteg Linggih, Makebat Daun. Rahina Buda Manis Medangsia 2 Juni, kesanggra olih Br. Pande saking semengan nyantos wengine santukan Br. Pande sane polih giliran nyanggra Pujawali. Sorene wenten rejang saking Br. Geladag (Wantilan)
  6. Ngayarin, wrespati Paing Medangsia 3 Juni, Pelawatan jagi masolah, gambelan Br. Kepisah
  7. Nganyarin, Sukra Pon Medangsia 4 Juni, Gambuh Br. Puseh masolah.
  8. Nugtug tigang rahina, nyenukin, saniscara wage Medangsia 5 Juni, unen-unen saking Batu Bayan lan gambelan Br. Kaja (Madia Mandala). Nyenukin ngubeng nganggen gambelan Br. Sawah.
  9. Pamuput Karya/Nyegara Gunung, Soma Pon Pahang 14 Juni. Ring segara gambelan Br. Ambengan. Saking Pura ke segara nganggen gambelan Br. Puseh. Saking Pura Desa ke Dalem nganggen gambelan Br. Sama

Minggu, 28 Maret 2010

Foto Parum 26 Maret









Ring raina Sukra, 26 Maret 2010 wengine magenah ring wantilan Pura Dalem Pakerisan kamargiang babaosan indik pidabdab nyanggra karya ring Pura Dalem Pakerisan, babaosan puniki manut sakadi sewala patra Nomor : 12/III/Bend/2010 Babaosane mamargi trepti lan ngamolihang petias-petias sane becik jaga kaanggen nuntun ngalaksanayang Karya Ngenteg Linggih Wrespati Kalpa Alit ring Pura Dalem Pakerisan.
Foto-foto puniki wantah sane wenten daweg pamargi babaosan ring ajeng.
Keterangan Foto:
  1. Foto 1: Laporan Rencana Sie Upakara/Banten
  2. Foto 2: Laporan Rencana Sie Kesenian
  3. Foto 3, 4, 5 : Laporan Seksi-seksi
  4. Foto 6: Rembug-rembug ring sie kesenian
  5. Foto 7, 8: Laporan Seksi-seksi

Rabu, 24 Maret 2010

Catatan Ngusabha Desa dalam konteks Kekinian

Sumber artikel di bawah ini (klik disini):
Ada banyak kebijaksanaan yang telah diwariskan oleh para penglisir masyarakat Hindu di Bali. Hampir semua bentuk upacara dan berbagai bentuk kesenian yang kini masih bisa dilihat dan dijalani komunitas masyarakat Bali merupakan wujud real dari warisan kebijaksanaan tersebut. Dalam konteks ini, upacara Ngusabha menjadi hal yang patut direnungkan di tengah perubahan pola pikir masyarakat Bali. Sebab, dalam upacara itu terkandung makna ucapan terima kasih kepada Hyang Widhi Wasa atas karunia-Nya. Belakangan ini, upacara Ngusabha itu terkesan serimonial dan lebih menonjolkan nilai-nilai estetika ketimbang nilai filosofinya. Nilai apa yang dapat kita petik dari upacara Ngusabha dalam konteks kekinian?


============================================
Menurut dosen sejarah Fakultas Sastra Unud Drs. Nyoman Wijaya, M.Si., salah satu kebijaksanaan telah diwariskan dalam kaitannya dengan aplikasi dari konsep pelestarian alam adalah apa yang disebut ngusabha. Konon ngusabha, kata Wijaya berasal, dari kata ''sabha'' berarti pertemuan. Maksudnya pertemuan antara manusia dan para Batara yang menangani masalah keduniawian.

Hal senada dikatakan Kepala Kantor Depag Kabupaten Badung Drs. IB Wijaya Kusuma. Ia mengatakan, dalam masyarakat Hindu di seluruh Bali, dikenal ada dua upacara ngusabha yakni Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini. Kedua ngusabha ini memiliki makna yang sama, hanya tempat pemujaannya yang berbeda. ''Kalau Ngusabha Desa ada pada tingkatan wilayah desa, sedangkan Ngusabha Nini ada pada tingkatan wilayah sawah,'' katanya. Selain perbedaan tempat, wujud stana Dewi Sri juga memiliki perbedaan. Kalau pada Ngusaba Desa menggunakan berbagi buah-buahan, sedangkan pada Ngusabha Nini memakai seikat padi.

Menurut mantan Ketua PHDI Bali ini, berdasarkan beberapa lontar seperti Dharma Pemaculan, Sri Purana Tatawa dan Dewa Tatwa, pelaksanaan upacara Ngusabha dilakukan tiap tahun sekali. Tujuannya sebagai sarana pemahayu jagat, wujud rasa syukur dan juga untuk menghindarkan masyarakat dari segala marabahaya. ''Tetapi pada kenyataannya upacara ngusabha ini lebih banyak dilaksanakan dalam sepuluh tahun sekali,'' kata Kusuma.

Upacara ini bisa dilaksanakan dalam jangka waktu 4, 6 atau 8 tahun. Semuanya tergantung dari situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat yang bersangkutan. Kalau di desa tersebut terjadi banyak sekali peristiwa yang bisa membuat leteh, terjadi bencana alam atau kejadian-kejadian lainnya, maka upacara ngusabha akan digelar.

Wijaya menambahkan, upacara Ngusabha Nini, yang berpusat di Pura Ulun Carik tempat Dewi Sri -- sakti Dewa Wisnu berstana -- petani tidak sekadar meminta perlindungan, akan tetapi juga mengucapkan terima kasih melalui suatu ''perjamuan'' yang dilengkapi sesajen dengan simbolnya masing-masing.

Boleh jadi tradisi ini sudah dikenal sejak manusia tidak lagi hidup berpindah-pindah. Masyarakat sudah membuka sawah ladang, yang diberikan makna sesuai konsep Hindu, bahwa manusia dengan sang pencipta merupakan satu-kesatuan. Manusia tunduk pada alam. Alam memberikan perlindungan, dan dilindungi oleh manusia. Karena alam yang sedang dilindungi adalah alam persawahan, penyelenggaranya secara niskala adalah Batara di Ulun Carik, dan secara sekala adalah klian subak beserta perangkat dan anggotanya.

Dalam konteks masa kini, kata Wijaya, pertemuan tersebut mencerminkan adanya momentum ketika manusia sebagai makhluk sosial dengan segala keterbatasannya ''berkomunikasi'' dengan kekuatan di atasnya, yang tidak terjangkau oleh akal dan daya fisik. Kekuatan itu diyakini telah memberikan perlindungan dan pengayoman dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam hubungannya dengan kelahiran, kehidupan, dan kematian.

Dialektika kehidupan ini, haruslah harmonis. Artinya manusia dapat dilahirkan dengan selamat, tumbuh dan berkembang secara wajar, dan kematian. Itu berlangsung secara alami atas kehendak para dewa, bukan karena dibantai atau gerubug, gering karena penyakit menular yang muncul secara serentak atau kesalahan teknik dalam mengelola persawahan. Jika sesuatu telah berlangsung harmonis, tak perlu lagi diadakan pertemuan dengan para dewa, sebab tak ada bahan yang dapat dijadikan keluhan atau laporan.

Kenyataannya, keharmonisan sering kali hanya berada dalam angan-angan. Ketika manusia membayangkan dirinya akan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, tiba-tiba saja muncul banyak rintangan pada pengadaan pangan. Misalnya, gangguan alam, binatang, dan hama tanaman padi. Di masa kini, gangguan lebih banyak muncul karena keserakahan. Terjadi penebangan hutan, pencurian batu kali, dan pengalihan fungsi tanah atas dasar kepentingan komersial belaka. Keserakahan kemudian menimbulkan kerusakan alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Siapa pun yang mengalami hal itu akan kelabakan. Di zaman dulu orang-orang Bali-Hindu mengatasi kebingungan ini dengan cara meminta perlindungan dari para dewa. Dalam hal ini diwakili oleh Dewi Sri, perwujudan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bentuk cinta kasih kesuburan. Masih perlukah hal yang serupa dilakukan oleh orang-orang Bali modern yang sudah jelas-jelas menuai bencana melalui keserakahannya? Akankah Ngusabha Nini mengandung daya efektivitas jika persoalannya sudah sesemrawut itu.

Lahan Sawah Tergiring

Makna apa yang dapat kita petik dari esensi upacara Ngusabha itu? Menurut Nyoman Wijaya, ketika kearifan Dewi Sri telah digantikan oleh dewi teknologi dan lahan sawah sudah tergiring -- dikapling menjadi lahan industri pariwisata -- masih perlukah upacara Ngusabha Nini? Secara real, akan terjadi penyederhanaan. Tidak lagi serumit dulu. Tampaknya, orang Bali-Hindu masih belum bisa melepaskannya, apalagi membuang upacara ini. Upacara ini telah menjadi bagian dari masyarakat dan kebudayaan Bali, terutama dalam hubungannya dengan upaya pelestarian hubungan antara manusia dengan sang pencipta, alam, dan sesamanya.

Upacara seperti ini telah menjadi ajang pertemuan, tempat manusia saling bisa berinteraksi. Di sisi lain akan timbul juga permasalahan baru, terutama bagi para urban yang hidup di sektor jasa. Tidak lagi dalam pola agraris, namun secara fisik tetap berhubungan dengan masyarakat asalnya. Kenapa? Masyarkat masih memiliki dan terikat dengan desa adatnya. Akankah kita bisa memisahkan antara ngusabha untuk kepentingan pertanian dan untuk kesejahteraan desa? Bisakah seseorang yang tidak lagi sebagai petani dan anggota subak tidak aktif dalam upacara Ngusabha Nini.

Dalam Paruman Sulinggih PHDI Bali, kata Wijaya Kusuma yang juga mantan Ketua Harian PHDI Bali ini, kenyataannya banyak lahan pertanian yang beralih fungsi dan berakibat pada ditinggalkannya pura subak menjadi salah satu pembahasan penting. Para sulinggih pada saat itu mengimbau agar pura subak tersebut jangan di-pralina, tetapi dilanjutkan pengelolaannya oleh masyarakat Hindu yang masih ada di sekitarnya.

Dasar yang bisa dipakai, kata Wijaya Kusuma, pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai dewa padi, pasti tetap menjadi hal penting bagi tiap orang. ''Bagaimana pun tiap manusia pasti membutuhkan beras sebagai makanan pokoknya dan ini bisa digunakan dasar bahwa mereka pun tetap akan memuja Dewi Sri yang distanakan di pura subak tersebut,'' kata Kusuma. Ditambahkan, kalau di sekitar pura subak tersebut tidak ada lagi umat Hindu, memang sebaiknya pura tersebut di-pralina.

Bagaimana menempatkan konsep ngusabha dalam konteks masa kini? Menurut Nyoman Wijaya, di tengah-tengah kemajuan peradaban ini, perlu kiranya menempatkan konsep upacara Ngusabha Nini dalam interpretasi masa kini. Konsep ngusabha telah mengajarkan, sesuatu tidak dapat digerakkan, jika tidak dikaitkan dengan mekanisme dan sistem. Para dewa tidak mampu melaksanakan misinya, jika tidak ada manusia. Dalam hal ini para petani, sebagai pihak yang mengerjakan, dan mengolah lahan.

Sebaliknya, petani tidak akan mampu membuat sesuatu tanpa keyakinan spiritual. Di sini ada sesuatu kekuatan yang telah mengendalikan kehidupan, sekalipun samar-samar kekuatan itu telah terwujud dalam perangkat teknologi. Konsep ini telah mengajarkan semacam sistem kabinet kerja. Segala sesuatu hanya akan bisa dilakukan jika sudah berada dalam suatu koridor kerja sama antara berbagai bidang, semacam pendekatan holistik untuk memecahkan dan menganalisis suatu masalah. Berdasarkan hal itu, sesuai dengan kepentingan masa kini, konsep ngusabha harus diberikan interpretasi baru, sebagai suatu pendekatan baru dalam memecahkan persoalan, keagrarian, terutama persawahan.

Dikatakan, kemajuan sektor industri pariwisata di Bali, tidak akan ada artinya jika tidak ditopang oleh penataan sektor agraris persawahan. Industri pariwisata harus dibangun atau didasari oleh penataan alam persawahan yang bagus, dan ini tantangan berat yang sedang dihadapi oleh Bali. Artinya, di satu sisi dia harus mampu membuat suatu paket pariwisata yang bagus, tanpa merusak alam. Padahal ada kecenderungan pariwisata selalu menggerus alam. Kalau sudah demikian, berarti persoalan persawahan di Bali, sudah saatnya tidak lagi ditangani oleh perangkat subak semata. Kepala pemerintahan tentunya Dinas Pariwisata harus dilibatkan sesuai konsep Ngusabha Nini yang melibatkan banyak dewa dan manusia. (win/sut)

Balipost 23 Januari 2002

ULEMAN

Pedungan, 22 Maret 2010


Nomor : 12/III/Bend/2010

Lamp : -

Indik : Uleman

Keatur ring Dane sane Kawangiang

.........................................................

Ring Pedungan


Om Swastyastu,
Ngelanturang hasil paruman duk tanggal 21 Maret 2010, sane kalaksanayang ring wantilan Pura Desa maosan indik pidabdab nyanggra karya ring Pura Dalem Pakerisan, titiang manggalaning Desa Pakraman Nunas keledangan Ida/Dane mangde presida rauh ring paruman sane jage kamargiang nemonin:
Rahina/pinanggal: Sukra, 26 Maret 2010
Galah : pukul 19.30 wita
Genah : Ring Pura dalem Pakerisan
Busana : Adat
Inggih wanta sekadi punika pinunas titiang, antuk uratian lan sengengrauh Ida/Dane tan lali titiang ngaturan suksmaning manah.
Om Santih, santih, santih om

Prajuru Desa Pakraman Pedungan

Bendesa



Drs. I Nyoman Sumantra


Penyarikan



Drs. I Gusti Putu Loka